Senin, 26 Januari 2009

Pemilah Genre Musik

Buat kawan-kawan yang suka musik dengan estetikanya sebaiknya tidak memilah genre musik yang menjadi fanatisme selera sesaat kawan-kawan bisa menikmati semua jenis musik dengan tanpa menghiraukan genre musik tertentu... Sadarlah bahwa membuat sebuah komposisi itu tak semudah membalik telapan tangan makanya cintailah semua genre musik yang hadir di dunia ini sebagai suatu karya estetis yang besar.

Gwe yakin kita sama-sama awam tentang batasan-batasan genre musik tertentu, sebagai contoh apa batasan lagu pop, pop rock clasic, pop alternatif, alternatif rock, dsb. maksud gwe batasannya nyaris tidak signifikan antara genre yang satu dengan lainnya, yang terpenting adalah bagaimana sebuah karya itu bisa dihormati dan dinikmati baik segi estetikanya maupun fungsinya.

Pemilah genre musik yang ada ternyata hanyalah sebuah egoisme emosional yang kurang berasalan, karena merasa masih muda, merasa sudah tua, merasa sedang "in", merasa sedang era-nya, merasa paling disuka, merasa paling mengena, merasa paling gwe banget, dst. Sungguh bukan alasan yang salah juga akan tetapi alasan yang tidak bertanggungjawab dan alasan sesaat yang tidak berkata tapi tidak berpikir jauh kedepan dan mengenang masa yang sudah lampau. Tidak bijak giut loh!!

So, sukailah, cintailah, semua genre musik yang hadir di tengah-tengah kita suaikan semuanya dengan kebutuhan pasti asik-asik aja tuh bermusikria, apalagi hanya sebagai penikmat yang tidak pernah berpikir rumitnya menyusun sebuah komposisi agar dapat dinikmati massa-nya. Celakanya para penjaja seni hanya berpikir pasar tanpa memikirkan kualitas karya secara estetis akhirnya pada suatu periode tertentu bergelimpangan karya dengan kualitas sesaat, yang kemudian berserakan bangkai karya dimana-mana.

Eit stop jangan emosi dulu kalau mau membuat opini tentang tulisan ini atau apapun...Ayooo kita mulai menulis, berkarya dengan seperti ini kan lumayan melatih keberanian untuk menulis. Tong sieun dicarekan batur, siun mah oleh kelakuan kita yang tak bermartabat sehingga menjadikan Tuhan kita murka maka neraka menganga menanti hadirnya dirimu disana....

Rabu, 21 Januari 2009

Selasa, 20 Januari 2009

Festival Band antar SMA PLN Kota Bandung

Sejurus kemudian anak-anak SMA Pasundan 5 Bandung yang tergabung dalam Ekskul Seni Musik Barat bimbingan Mr. Ridwan Sigit mengasah diri mengenjot prestasi dengan mengikuti Festival Band yang diselenggarakan oleh PT. PLN (Persero) Kota Bandung. Dengan membawakan lagu wajib "Karatagan" PLN (begitulah kira-kira) serta membawakan jingle dengan durasi komposisi 1 menit dan harus diciptakan setiap peserta yang mengikuti kegiatan tersebut. System Audisi on the stage-pun membuat seluruh peserta merasa lebih dihargai sehingga berusaha keras untuk menampilkan karya dan refertoar karya terbaik.

Demikian halnya dengan Band SMA Pasundan 5 Bandung, dengan semangat dan perjuangan yang tiada kenal lelah siang malam selama kurun waktu 2 s/d 3 hari mengasah kemampuannya di studio 6 Jl. Bukit Indah I Blok Q No. 5-6 yang merupakan Studio Musik Pribadi Mr. Ridwan Sigit. Semua berjalan dengan baik, semua tidak ada yang salah, komposisi musik yang diwajibkan oleh panitia untuk menjadi tontonan publik dan penilaian team juri telah digubah sesuai kemampuan dan kreativitas para siswa yang di gawangi Dicky Aceng pada Bass, Adhi pada lead Guitar dan Vocal, Lukman pada rhytm, Dani Z pada Drum, Verry Wado pada Keyboard. Mereka juga berhasil menggubah sebuah karya dengan durasi satu menit dalam jingle PLN dengan syair dan lagu ciptaan merekan serta sedikit masukan dari sang pembina Eskul, jadilah sebuah komposisi yang cukup menarik dan elegan untuk dinikmati.

Refertoar-pun dilaksanakan sesuai dengan jadwal yang diagendakan panitia (PT. PLN), meskipun seperti biasa mestinya dimuali pukul 08.00 kenyataanya pukul 10.00 baru dimulai, tapi itu biasa bagi mereka alhasil Band SMA Pasundan 5 Bandung tercinta yang seharusnya manggung pukul 10.30 molor hingga pukul 15-an disamping ngaretnya waktu pelaksanaan juga si panjang tungkai alias hujan turun dengan sangat deras diiringi gelegar petir yang bertali-tali seolah tak ingin kalah dengan gelegar suara sound system di atas panggung gelar PLN yang cukup refresentatif untuk ukuran sebuah acara audisi yang menurut pengamatan penulis nyaris seperti pesta sesungguhnya itu. Hal lain yang membuat seluruh peserta tetap semangat meski hujan deras mengguyur seolah tak mau berhenti adalah suguhan konsumsi yang cukup baik dan mengerti selera anak seusia para peserta festival, sayangnya tidak diikiuti oleh penampilan beberapa yang katanya bintang tamu pengisis jeda yang terkesan agak biasa-biasa aja tuh...

Meski tak berhasil meraih prestasi terbaik bagi Grup Band SMA Pasundan 5 Bandung, tapi kepuasan dengan beberapa hal terpenuhi ya itu tadi konsumsi dan fasilitas pendukung yang ada cukup memberi kesan puas. Selidik punya selidik kenapa kami dengan persiapan yang menyakinkan tadi ternyata tidak juga meraih posisi untuk bisa menantang grup Band lain yang sedikit lebih baik di atas kami? ternyata mental kami belum sepenuhnya siap untuk manggung, terbukti masih saja ada kesalahan-kesalahan mendasar yang tidak seharusnya terjadi tapi terjadi juga, diantaranya teknik penguasaan panggung yang sama sekali tidak dilakukan, teknik dasar penguasaan panggung agar tidak demam panggung salah duanya antara lain seluruh pemain seyogyanya mengenali alat musik yang akan dimainkannya kemudian kuasai sepenuhnya jangan sampai waditra menguasai kita caranya cobalah memainkian alat musik tersebut dengan perlahan. Contohnya untuk seorang pemain Drum yang pertama kali harus dilakukan adalah peregangan otot, periksa seluruh custom drum dengan cara melihat, memegang, sedikit dielus-elus (tentu dengan tidak berlebihan), lalu mencoba memainkannya dengan khas kita, pukuli seluruh drum custom dari mulai bass drum, snar drum, semua tom-tom, dan cymbal akan tetapi dengan pelan dan penuh perasaan sampai merasa enjoy gitu loh... yang terakhir adalah berbicara dengan sangat perlahan katakan "Kamu (Drum) dan aku siap bekerjasama dan kita saling percaya", lalu tataplah kawan kita yang lain satu persatu dengan penuh percaya diri dan saling mempercayai satu sama lain seraya menyatukan visi yang sehati dan sejiwa dalam pikiran kita bahwa kita yakin dengan seyakin-yakinnya sudah siap untuk berlaga. Hal tersebut nampak panjang lebar dalam tulisan tetapi dalam kenyataanya hanya membutuhkan waktu dalam hitungan 1 atau 2 menit-pun belum tentu tetapi sangat efektif untuk menepis ragu menghadang asa tak percaya, sekedip mata mampu mengusir demam berlebih, paling tidak itu pengalaman penulis kala manggung (dulu waktu masih mencari jati diri dan melepas dahaga untuk bergaya).

Ketidakberhasilan (bukan kegagalan) Band SMA Pasundan 5 Bandung untuk berlaga pada ajang yang lebih bergenngsi bukan merupakan punishment bagi kami melainkan kami jadikan pengalaman untuk memicu kami dalam berkarya, mencoba dan terus mencoba itulah hikmah pengalaman tiada tara yang ingin kami bawa sepanjang masa. Pepatah barat mengatakan Experience is a good teacher (Pengalaman adalah guru yang terbaik) itulah bekal kami untuk melangkah lebih hari ini baik dari hari kemarin, hari ini harus lebih baik daripada hari ini. Tidak lupa kami atas nama Grup Band SMA Pasundan 5 menghaturkan terimakasih yang tak terhingga pada teman-teman di sekolah yang telah mendukung kami (Ujang selaku ketua OSIS beserta jajaran pengurus lainnya, PMR, Pramuka, Theater) dan seluruh civitas akademika SMA Pasundan 5 Bandung yang telah mandukung kami dengan sepenuh hati, perjuangan kita belum selesai jika kami belum berhasil esok atau lusa kita akan berprestasi dalam bidang-bidang kita masing-masing. Sukses selalu SMA Pasundan 5 Bandung.